Being Polite or Can’t say NO

Square

Cerita dikit, inti nya being polite is not the same as you can’t say NO

Jadi pekan lalu ada kerjaan di Padang, suatu pagi saya dipanggil sama bos, dan sampai diruangan nya, udah ada mantan bos saya dulu. Beliau sudah pensiun kurang lebih sepuluh tahun lalu.

Singkat cerita dia cerita, mau pergi juga ke event diluar kota itu, dia bilang punya media dan mau ikut meliput acara. Sampai disini ga ada yang aneh, sampai Bos saya itu, panggil saja Madam mulai bertanya

“Nanti bapak berangkat kapan? saya dan teman teman pergi tanggal 8/9 ini” tanya Madam

“oh Saya rencana besok berangkat tanggal 7 ke Padang naik Bis’ kata Pak Pensiunan

saya mikir, buset ke Padang naik bis dengan usia yang ga muda lagi apa ga malah nyusahin diri sendiri ya? Belom selesai saya mikir si Madam langsung bilang ke staff lain,

“Coba cariin tiket pesawat untuk besok, buat pak P” trus biaya dari bagian (menyebut divisi saya)”

Saya sama Madam waktu jaman Pak P masih aktif memang sering kerja bareng, dan Madam cukup dekat sama beliau ini. Saya ga terlalu heran kalau Madam pasti kasi fasilitas untuk dia dengan membayari tiket.

Selain karena kedekatan tadi, dan Madam memang karakter nya ga enakan, selalu pengen jadi penyelamat dan kasih solusi ke orang yang susah.

Well kalo dia bayarin dari kantung pribadi, mungkin saya malah salut, dia tidak melupakan orang orang yang ada, membantu di awal karir dia dan saya ga masalah, cuma kalo membebani dengan post yang bukan wewenang dia. hmm ya sudah lah.

Saya cukup tahu karakter pak P ini, tipikal boomer, standar yang kalo ketemu selalu bercerita masa masa kejayaan nya. Saya pun setelah dia pensiun pernah ditawari untuk bantu urusan dia, cuma saya tolak halus dengan alasan ga ada waktu.

Saya paham, ditempat kerja saya di instansi pemerintah, walau sudah pensiun, sebagai junior harus tetap diakomodir tiap kebutuhan nya. Suatu nilai yang saya rasa bertentangan, well buat saya dia masanya dia untuk saya akomodasi dan ditaati sudah lewat, dan dia sudah bukan bos saya.

Ditaati ya bukan tidak dihormati, saya tetap hormat sama beliau sewajarnya.

Gak, saya ga pengen juga merubah perangai si madam dan pak P, saya lebih baik menghindari urusan sama mereka berdua, khususnya sama pak P.

Saya bukan people fixer, biar attitude mereka dihadapi sama orang orang terdekatnya, dan bukan saya.

PS : Pak P yang katanya mau bikin liputan, sampai selesai acara Padang ga ketahuan output sebenarnya apa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *